Pages

Jumat, 19 Agustus 2011

THE LOVE CHOIR


Aku dan bian sudah berteman sejak masih kelas dua smp. Saat itu sama sekali tidak ada bayangan bahwa hubungan kami akan berlanjut ke tahap sekarang ini. Yah, namanya juga masih bau kencur. Apasih yang dipikirkan anak umur tiga belas tahun waktu itu?
Aku masih ingat betul bagaimana Bian menembakku. Itu pertama kalinya bagiku. Saat itu kami duduk di kelas 3 smp. Kira-kira di akhir cawu 1, di sekolah kami diadakan sebuah pentas seni ramainya minta ampun. Dan selama tiga hari, disekolah kami tidak diadakan kegiatan belajar mengajar. Yang ada Cuma ngeband, jingkrak jingkrak , dan jerat jerit ngga karuan. Bagiku, yang waktu itu bener-bener tipe anak bibliomania(kutubuku), acara macam itu sama sekali tidak menarik. Aku lebih suka menghabiskan waktu kosong bersama gerombolanku didalam kelas sambil membahas soal ebtanas.
Waktu aku smp dulu, aku ini bener bener ndeso abis ! bayangkan saja , selama tiga tahun , lagu barat yang aku tau Cuma I Have A Dream-nya Westlife. Nggak ada yang kupikirkan selain belajar, belajar dan belajar. Bagiku , pujian dan penghargaan yang diberikan guru dan teman-teman itu adalah segala-galanya. “Gila , Tari Pinter banget ! Aljabar kan susah banget !” adalah kalimat yang sudah jadi makanan ku setiap hari. Aku sampai tidak ada ngurus waktu buat ngegebet cowok , pakai lipgloss, atau jalan-jalan ke mall seperti yang kebanyakan anak cewek dikelasku lakukan setiap hari. Sama sekali nggak pernah.
Lalu Bian sendiri? Wah, dia itu cowok yang rame banget! Entah bagaimana caranya , ia tidak perlu bersusah payah mendapat ranking satu untuk bisa menarik perhatian guru dan teman-teman sekelas. Yang jelas kepribadian kami bagai bumi dan matahari.
Kami sekelas saat masih dikelas dua. Tapi, begitu dikelas tiga, kelas kami berpisah. Tapi, meski begitu, kelas kami masih bersebelahan. Jadi, hanya dari dalam kelasku saja , aku sudah bisa mendengar jeritan dan ketawanya dia yang ngga karuan setiap jam istirahat. Ku akui , saat masih kelas dua , hubungan kami terbilang akrab. Kami sering bekerja dalam satu kelompok tugas. Dan Bian sering sekali membantuku saat olahraga (terutama kalau tes lompat tinggi, dimana aku sering sekali nyangkut di papan lompat). Dan karena dirinya yang begitu terbuka dan bersahabat , hampir tak ada bagian disekolah kami yang tidak kenal dengan namanya. Termasuk aku, yang saat itu menganggapnya sebagai teman laki-laki terhebat yang pernah kumiliki.
Lalu semua itu berubah, saat pentas seni (pensi) pada hari kedua. Di sekolahku ada ekstrakulikuler paduan suara. Dan paduan suara smp kami saat itu sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba di Bandung. Tapi, karena kekurangan dana , mereka melakukan semacam “ngamen” dengan tampil di atas panggung pensi dan menyanyikan lagu apapun yang diminta penonton dengan imbalan uang. Saat giliran mereka naik panggung, aku sedang duduk dibangku penonton (saat itu aku diseret-seret temanku yang ingin sekali menonton paduan suara). Awalnya paduan suara itu menyanyikan lagu lagu popbiasa, lalu saat memasuki lagu ketiga, sang dirijen itu berhenti dan membalikan tubuhnya ke arah penonton.
“Bapak-Ibu Guru dan teman-temanku sekalian”, kata ria , sang dirijen.”sekarang kami akan menyanyikan sebuah lagu yang khusus dipersembahkan olehnya untuk seorang perempuan yang sudah di sukai nya selama hampir  satu tahun”. Lautan tepuk tangan dan sorak yang kurasa hampir meledakan telingaku bergempita dimana-mana. Seluruh murid mendadak berkumpul di tengah lapangan.
“oke,oke. Tenang para hadirin, “ ujar ria dengan cengar cengir nggak karuan di atas panggung . “dia bilang cewek yang ditaksir nya suka banget lagu ini. Dan demi lagu ini, dia membayar kami dengan SEMUA UANG SAKUNYA SELAMA SATU BULAN !!” Ramai lagi. Benar –benar kalah sama suara bom kuningan.
Kemudian Ria membalik badan dan menjentikkan tangan nya kembali. Suasana begitu hening , seakan ingin mendengarkan apa yang akan paduan suara itu nyanyikan. Lalu kekagetan besar benar-benar menimpaku semenit kemudian. Bukan karna paduan suara itu menyanyikan lagu I Have A Dream, bukan karena beberapa murid sekelasku melirik padaku dengan mata sebesar bola golf ,bukan juga karena paduan suara di panggung itu, dan juga seisi sekolah yang sekarang melirik ke arah seorang cowo jabrik yang sedang berjalan ketengah lapangan. Bukan itu !
Tapi, karena..

Tapi, karena si cowo jabrik itu mendekati tempat dudukku !
Ya , bian mendatangiku ! saat paduan suara itu berhenti bernyanyi, dan seisi sekolah termasuk para guru melirik padaku, dan teman-teman se-geng-ku menatap Bian seakan dia makhluk Plutoyang baru mendarat dibumi, Bian menarik tanganku supaya ikut berdiri bersama nya. Saat itu aku saking kagetnya, dikepalaku sama sekali tidak kepikiran apapun. Jadi, aku ikuti saja apa yang Bian mau. Lalu , dengan sebuah microphone di tangan kanan nya , Bian menatapku dan berkata,
“Tari, gue suka sama elo. Lo mau ga pacarans ama gue?” Semua bocah ditempat itu menjerit hingga kurasa kalau pesawat AS datang dan menjatuhkan rudal ditempat itu mereka masa bodo amat. Semua guru berdiri, mendelik ke arahku , dan ikut bertepuk seakan kami ini topeng monyet -_______- . Sementara aku ? wah , wajahku sudah tidak karuan. Mungkin sudah semerah darah, atau bahkan se-ungu terong. Yang jelas kejadian itu benar-benar membuatku malu. Sedikit terharu mungkin.
Tentu saja , aku ini nggak ada sama sekali cakep-cakepnya. Malah, kalau boleh jujur nih, waktu itu aku ini GENDUT BANGET ! Sama sekali ngga ada potongan covergirl-nya sama sekali deh. Tapi kenapa Bian, cowok asyik yang meski tampangnya ngga ada coverboy-nya sama sekali, bisa suka denganku yang begini? Sampai harus mengorbankan uang sakunya demi aku?
Itu aneh sekali , tapi romantis :*
Tapi dasar diriku. Harga diri-ranking satu-ku tetaplah segala-galanya. Aku tidak mau pacaran karena akan mengganggu nilai-nilaiku. Aku tak mau para guru akan menganggap bahwa aku ini sama dengan anak-anak lain. Aku mau mereka tetap menganggap diriku ini adalah murid teladan dan bisa dibanggakan oleh mereka. Dan itu lah yang ada dipikiranku sejenak. Jadi, seharusnya aku mengatakan “TIDAK” pada Bian. Ya, aku harus menolaknya. Lalu kutatap kedua mata besarnya yang – entah kenapa – terasa memikat untuk sesaat. Kutarik nafasku dalam-dalam dan ku raih microphone di tangan nya dan berkata,
“Tentu saja aku mau !! ko masih nanya sih?”
Lalu seisi sekolah menjerit riuh dan mengelu-elu kan nama kami. Bian mencium pipiku sebagai tanda sayang. Aku benar-benar tidak tau mengapa yang kukatakan justru berbeda dengan apa yang aku pikirkan. Tapi begitu Bian mengecup pipiku , oh rasanya semua kekecewaan itu segera lenyap seperti angin.
Saat itu lah aku menyadari bahwa saat aku berpikir tadi itulah saat aku dimana sedang berbohong. Tapi hatiku ternyata tidak bisa melakukan itu. Dan setelah kukatakan penerimaan itulah, hatiku menjerit begini ,
“Ya ampun, inilah cowo yang Tuhan kirimkan untukku”
Kami berpacaran sejak saat itu, dan hubungan kami telah berlangsung sampai saat ini. Selama tiga tahun ini, Bian telah membuat hari-hariku terasa berwarna –warni melebihi warna pelangi. Ah, aku benar-benar tidak tau apa yang terjadi andaikan saat itu, aku mengatakan “tidak” padanya .
.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar